Oleh: Ustadz Wawan Rongkop
Dalam perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah menghadapi beragam tantangan, baik dalam kehidupan internal organisasi maupun dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok Islam lainnya. Perbedaan pandangan keagamaan, khususnya dalam persoalan furū‘iyyah, terkadang menimbulkan kesalahpahaman dan ketegangan di tengah masyarakat.
Pada masa lalu, perbedaan praktik keagamaan antara sebagian warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) kerap menjadi sumber perdebatan. Persoalan seperti puji-pujian setelah azan, ziarah kubur, peringatan maulid, dan penentuan awal Syawal menjadi contoh perbedaan yang perlu disikapi dengan ilmu, kedewasaan, dan saling menghormati.
Namun, perjalanan waktu menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada permusuhan. Kedua organisasi memiliki kontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pengembangan kehidupan umat Islam di Indonesia.
Kegiatan sosial yang mempertemukan warga Muhammadiyah dan NU, termasuk penyediaan makanan bagi peserta dan penggembira muktamar, dapat menjadi simbol bahwa persaudaraan dan pelayanan kepada umat harus lebih dikedepankan daripada perbedaan.
Tantangan abad kedua: memperkuat fondasi internal
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang semakin beragam. Salah satunya adalah bagaimana memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas dakwah, serta menjaga kedekatan antara organisasi dan warga di tingkat akar rumput.
Berkembangnya minat sebagian warga Muhammadiyah untuk mengikuti kajian dan belajar kepada ustaz dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan Salafi, dapat menjadi bahan evaluasi yang konstruktif. Fenomena ini tidak semestinya langsung dipahami sebagai ancaman atau pertentangan antarkelompok.
Sebaliknya, ada beberapa pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh Muhammadiyah.
Pertama, bagaimana meningkatkan kualitas kaderisasi dan pembinaan keagamaan? Organisasi perlu memastikan bahwa warga memperoleh akses terhadap pendidikan Islam yang bermutu, pembinaan yang berkelanjutan, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kedua, bagaimana memperkuat pelayanan dan pengelolaan masjid? Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan umat, dan pelayanan sosial. Pengelolaan yang profesional, terbuka, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah akan memperkuat peran masjid dalam kehidupan masyarakat.
Ketiga, bagaimana menghadirkan dakwah yang relevan dengan generasi baru? Masyarakat kini memiliki banyak pilihan sumber belajar agama, termasuk melalui media sosial. Karena itu, dakwah perlu disampaikan secara menarik, mudah diakses, mendalam, dan tetap berlandaskan ilmu serta akhlak.
Berbagai tantangan tersebut hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan alasan untuk membangun kecurigaan terhadap kelompok lain. Muhammadiyah dapat belajar dari dinamika dakwah yang berkembang tanpa harus kehilangan identitas, prinsip, dan tradisi organisasinya.
Membangun sinergi tanpa kehilangan identitas
Pengalaman hubungan Muhammadiyah dan NU memberikan pelajaran penting bahwa perbedaan dapat dikelola melalui dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap ruang perbedaan.
Semangat serupa dapat dikembangkan dalam hubungan dengan berbagai kelompok Islam lainnya, termasuk kalangan Salafi. Sinergi tidak berarti semua pihak harus menyamakan pandangan dalam setiap persoalan. Sinergi berarti bersedia bekerja sama dalam bidang-bidang yang membawa kemaslahatan, sembari menyikapi perbedaan secara proporsional.
Muhammadiyah tetap memiliki tanggung jawab untuk memperkuat kaderisasi dan tata kelola organisasinya. Pada saat yang sama, hubungan baik dengan kelompok lain perlu dibangun melalui komunikasi yang sehat, penghormatan terhadap perbedaan, dan kerja nyata bagi masyarakat.
Penutup
Keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menghadapi perbedaan, tetapi juga oleh kesanggupannya melakukan evaluasi dan memperbaiki diri.
Jika pada perjalanan abad pertamanya Muhammadiyah belajar mengelola perbedaan dengan berbagai kelompok Islam, maka pada abad keduanya tantangan penting adalah memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperluas kerja sama dalam kebaikan.
Semoga Muhammadiyah terus berkembang sebagai gerakan dakwah yang berkemajuan, mampu menjaga identitasnya, terbuka terhadap evaluasi, dan memberikan manfaat bagi umat serta bangsa.
Semoga Allah membimbing seluruh elemen umat Islam untuk saling menghormati, memperkuat persaudaraan, dan bekerja sama dalam mewujudkan kemaslahatan bersama.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Istana Atas Telaga, 16 September 2026
